Mulai dari sisi ini lah,Masa depan ku berawal

Berharap bintang jatuh gak jauh dari orbitnya, begitu kata Aristoteles atau keturunannya Achmad Arif Maulana. hehehe

Bukan cuma awal yang menentukan ke arah mana. Tapi juga tindakan, pikiran kita ke Masa yang akan datang. Yang akan mencoba membimbing kita sampai ke arah yang gak ada duanya. Cerita gue bukan cerita Cinderella atau juga Putri Diana. Tapi gue berkhayal jadi Newton atau juga Graham Bell atau malah Thomas Alfa Edison yang menemukan 1000 kegagalan dalam pembuatan lampu dan ternyata itu malah menjadikan dia si penemu terbanyak sepanjang masa. <red-HEBAT>

Cerita yang boleh dibilang karangan sendiri, tapi mungkin bisa juga jadi moivasi buat kalian. Tahun 2011, awal penulisan gue berlanjut.

      S1 atau ya boleh dibilang SD (Sekolah Dasar), gue belum pernah mencicipi manisnya kehidupan. Tapi, gue bersyukur sejak lahir dan dibesarkan sampai sebesar itu. Walau cuma disuapin tempe dan nasi, tapi gue masih tetep bisa berdiri sampai sekarang. Kenapa bisa dibilang gue gak seberuntung kalian, walau banyak juga sih yang lebih parah dari gue. Dan pernah gue inget pas ditanya mau jadi apa?gue mikir dan diem 1001 bahasa. Karena emang dari rumah gue belum pernah ditanyain gitu. Hebatnya lagi ketemu dan gue cuma bilang begini ke Guru gue, “Mau jadi Manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa.” (Terima kasih ibu dia memang figur tepat untuk mengasihi orang lain)

      Ya lagi-lagi gue berkata, “Semoga bintang jatuh gak jauh dari orbitnya.” Kenapa bisa berpikir sampai ke situ. Waktu SD ternyata kisah kelam gue sama kayak yang dirasain kakak sulung gue <red-maklum anak bontot>, yang kata mereka sih gue tuh gak seberuntung kakak gue. Sebab, gue lulus SD dengan predikat susah payah, dari yang cuma jajan Rp. 500 s.d Rp. 1000. Gue ikhlas toh gue masih bisa jalan kaki ke TKP kok.

      Sampai yang bikin gue seneng adalah gue pernah menginjakkan kaki di Peringkat pertama dalam kelas, <red-Woow..Amazing> and that’s miracle for me. Keajaiban buat temen-temen gue waktu SD, gue itu bego. Gue aja kaget bisa dapet Ranking segitu, apalagi mereka yang IQ-nya masih diatas gue. Lulus SD, gue bingung mau lanjutin kemana dengan nilai segitu adanya gue berharap gak masuk Swasta kesian Emak & Bapak gue. Buat makan sehari-hari aja sampe nangis-nangis. Lantaran waktu itu masih ada 2 kakak gue yang sekolah juga.

      Gue yang kesian liat mereka, gak mau ambil pusing, karena waktu itu cuma 1 pilihan SMP. Gue mikir apa lebih baik gue lanjut ke SMPN 13 Bekasi (Domino-sebutan lainnya)?? Dan taraaaa…. Masuklah gue ke situ, dengan predikat otak pas-pasan tapi jiwa tempur gue berkata, nilai gak menentukan kematangan gue. Alhamdulillahnya Sistem yang dianut SMP itu adalah Test, ya gue sih punya pikiran nilai gue bukan segalanya. Gue masih punya spare waktu untuk bahagiakan orang tua gue, dengan belajar lagi.

    Alhasil adalah gue masuk peringkat 10 besar dalam nilai Test disana. Kalau gue inget sih peringkat 6 (itu juga kayaknya!). hehehehe Cuma dari situ gue bangga sama diri gue, dan terbuktilah bahwa “Bintang jatuh gak jauh dari orbitnya!”. Gue and Bokap punya kesamaan yaitu Jiwa Kompetisi, tapi ya secara sehat lah. Bukan dengan kesombongan berawal, ya harus diselesaikan dengan “Padi semakin berisi semakin merunduk” kalau gak salah itu tuh Peribahasanya.

      Di SMP (atau biasa disebut S2), gue masuk kelas ya kalo kata orang-orang situ sih bukan kelas terbuang dan terbukti temen-temen gue waktu kelas 1. Pada pinter dan pandai Boss,gue doang yang pecicilan gak bisa diem urakkan ancur bin kecebur dah. Beruntungnya gue, depan kelas gue <red-karena gue kelas 1.2 yg gue maksud itu ya 1.1> ada wanita cantik bin beauty dan clever bin pandai Bang. Dia adalah peringkat 2 pas nilai Test, sebut saja “satu”.

       Ditanyain lagi, heran gue sama kata-kata itu, “Kalau mau maju dan sukses, gantungkan Cita-cita Kalian setinggi langit biru itu, lalu apa Cita-cita kalian?” Pas kesempatan dapet gue ditanya, “Rif, cita-cita kamu apa?”. Lagi-lagi gue cuma bisa diem dan Berkata, “Jadi Manusia yang berguna bagi Agama, nusa dan bangsa.” Itulah jawaban gue, meningkat 1 kelas dari jawaban waktu SD. hehe

      Kalau kata temen gue, “Kepandaian mengalahkan ketampanan Cu!”. Sedayung angin berhembus, ternyata  si “satu” itu juga suka sama gue. Tuh, baru gue percaya sama omongan temen gue. Tapi, gue gak mentingin pacaran gue mau fokus belajar..belajar..dan belajar. Cuma maen..maen..maen.. ama cowok bukan sama cewek <red-Sorry No MAHO detected here!>,maen apa lagi selain maen PS dirumah Sohib yang gratis pula. hahaha
Senengnya gue pada saat itu, sampe gue lupa belum rasain yang namanya pacaran. Orang tua dulu berkata, “Kalau Sekolah itu megang pensil dan buku bukan cewek atau perempuan.” Gue cuma manggut dan berkata “Gue juga belum mau pacaran, masih mau bebas kayak burung.” Pasti ada yang ngomong nih, “Mang kalo pacaran maksa apa??”. “Ya..iya lah”, itu jawaban gue. Sekarang pikir aja duit buat jajan sehari-hari aja masih gue sisihin buat makan dan jajan besok. Masa pindah tangan buat bayarin cewek jalan dan makan <red-emang gue pelit,mau apa lu!>

     Itu lah serba-serbi hidup gue dari awal mula terbentuknya otak ini. Cuma makan tempe??jangan salah dari tempe bisa terbentuk pengusaha sukses loh. Cum jajan pas-pasan dan masih berpikir buat ditabung. Dari yang males belajar karena diomelin sampe yang gak pake disuruh kalo belajar. Dari yang ecek-ecek sampe diakui. Mulai dari sisi ini lah, Hidup Masa Depan gue berawal. Jadi kawan jangan sungkan untuk menghayal karena dari yang sekedar itu semua, lu bisa jadi apa yang lu inginkan.

<sambung ke edisi lain ya, lagi banyak kerjaan.>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s